Dosen DKV UNY Kenalkan Seni Sungging Topeng kepada Pembelajar BIPA di Vietnam

Keterangan Foto: 
Workshop sungging topeng

 

Hanoi, Vietnam – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang terdiri atas Dr. Dwi Retno Sri Ambarwati, S.Sn., M.Sn., Arsianti Latifah, S.Pd., M.Sn., dan Robby Firmansyah, S.Sn., M.Ds. melaksanakan kegiatan internasional bertajuk Workshop Lukis Topeng (Sungging) untuk Memperkuat Pemahaman Seni dan Budaya Indonesia bagi Pembelajar BIPA di USSH dan HANU, Vietnam. Kegiatan ini dilaksanakan di Hanoi University (HANU) dan University of Social Sciences and Humanities (USSH) Hanoi sebagai bagian dari upaya diplomasi budaya Indonesia melalui pendidikan dan seni.

Program ini ditujukan kepada mahasiswa dan dosen Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang selama ini mempelajari bahasa Indonesia, namun memiliki keterbatasan akses terhadap pengalaman budaya Indonesia secara langsung. Melalui workshop ini, peserta diajak tidak hanya memahami budaya Indonesia secara teoritis, tetapi juga menghayati nilai-nilai budaya melalui praktik seni tradisional.

Kegiatan diawali dengan sesi apresiasi budaya yang membahas topeng Nusantara, khususnya topeng Panji sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang sarat nilai filosofis. Peserta diperkenalkan pada berbagai karakter topeng seperti karakter halus, gagah, dan kasar yang merepresentasikan sifat-sifat manusia dalam tradisi budaya Jawa. Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang ingin memahami lebih jauh simbolisme dan makna budaya yang terkandung dalam seni topeng Indonesia.

Pada sesi berikutnya, peserta mengikuti pelatihan teknik sungging, yaitu teknik pewarnaan tradisional yang digunakan dalam pembuatan topeng. Tim dosen UNY mendemonstrasikan proses pewarnaan, pembuatan gradasi warna, hingga teknik ornamentasi khas yang menjadi ciri seni sungging. Setiap peserta memperoleh kit pembelajaran yang terdiri atas topeng kayu, kuas, cat akrilik, dan panduan praktik.

Melalui pendampingan intensif, peserta berhasil menghasilkan karya topeng yang mencerminkan kreativitas sekaligus pemahaman mereka terhadap filosofi budaya Indonesia. Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar peserta karena untuk pertama kalinya mereka berinteraksi langsung dengan media seni tradisional Indonesia.

Ketua tim pengabdian, Dr. Dwi Retno Sri Ambarwati, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa seni merupakan bahasa universal yang efektif untuk memperkenalkan budaya kepada masyarakat internasional.

"Pembelajaran budaya tidak cukup hanya melalui teks atau ceramah. Melalui praktik seni, peserta dapat merasakan langsung nilai-nilai budaya Indonesia seperti kesabaran, ketelitian, kehalusan budi, dan penghargaan terhadap proses. Inilah yang ingin kami hadirkan melalui workshop sungging topeng ini," ujarnya.

Selain meningkatkan pemahaman budaya Indonesia bagi pembelajar BIPA, kegiatan ini juga memperkuat hubungan kerja sama antara Universitas Negeri Yogyakarta dengan HANU dan USSH Hanoi. Program ini sejalan dengan upaya internasionalisasi UNY sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui kegiatan ini, seni tradisional Indonesia tidak hanya diperkenalkan sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mampu membangun pemahaman lintas budaya, mempererat hubungan antarbangsa, dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

Tim Pengabdian berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus berkembang melalui berbagai program budaya dan akademik lainnya, sehingga semakin banyak masyarakat internasional yang mengenal dan mengapresiasi kekayaan seni budaya Indonesia.