Visual Narasi Borobudur: Menghidupkan Kembali Relief Candi untuk Generasi Muda

Keterangan Foto: 
Tim Peneliti Prodi DKV FBSB UNY

Tim peneliti Prodi DKV Universitas Negeri Yogyakarta terdiri atas Dr. Dwi Retno Sri Ambarwati, S.Sn.,M.Sn., Novida Nur Miftakhul Arif, S.Pd., M.Sn., dan Robby Firmansyah, S.Sn., M.Ds.  mengembangkan media edukasi budaya berbasis visual naratif untuk memperkenalkan kembali relief dan arsitektur Candi Borobudur kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan menjembatani kekayaan nilai budaya Borobudur dengan karakteristik masyarakat digital yang lebih akrab dengan media visual dan media sosial.

Sebagai salah satu warisan budaya dunia yang diakui UNESCO, Candi Borobudur tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan ribuan cerita dan ajaran moral yang dipahat pada dinding batu. Borobudur memiliki 2.672 panel relief yang terdiri atas 1.460 panel naratif dan 1.212 panel dekoratif. Relief-relief tersebut menceritakan berbagai kisah, mulai dari perjalanan hidup Siddhartha Gautama dalam rangkaian Lalitavistara hingga kisah-kisah kebajikan dalam Jataka dan Avadana.

Namun demikian, hasil observasi penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar generasi muda lebih mengenal Borobudur sebagai objek wisata daripada sebagai media pembelajaran budaya. Informasi mengenai relief dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya masih relatif sulit dipahami, terutama oleh pengguna media digital yang terbiasa dengan penyajian informasi yang ringkas, visual, dan interaktif.

Ketua tim penelitian, Dwi Retno Sri Ambarwati, menjelaskan bahwa pendekatan visual naratif dipilih karena memiliki kemampuan untuk menyederhanakan informasi kompleks menjadi cerita visual yang menarik dan mudah dipahami.

“Relief-relief Borobudur pada dasarnya merupakan bentuk visual storytelling yang telah dibuat lebih dari seribu tahun lalu. Melalui penelitian ini, kami mencoba menerjemahkan kembali narasi tersebut ke dalam bahasa visual yang sesuai dengan karakter generasi muda saat ini,” jelasnya.

Dalam penelitian ini, tim mengembangkan berbagai media edukasi digital, antara lain komik edukasi, infografis, microblog Instagram, serta konsep motion graphic yang mengangkat cerita-cerita penting dari relief Borobudur. Salah satu produk yang dihasilkan adalah seri microblog “Borobudur Saga”, yang menyajikan kisah-kisah relief dalam format carousel Instagram yang mudah diakses dan dibagikan melalui media sosial.

Beberapa tema yang dikembangkan antara lain kisah kelahiran Siddhartha Gautama, perjalanan meninggalkan istana, proses pencarian pencerahan, hingga kisah-kisah Jataka yang mengajarkan nilai kebijaksanaan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.

Selain mengembangkan media visual, penelitian ini juga melibatkan masyarakat sekitar kawasan Borobudur sebagai pengguna utama. Pada tahap berikutnya, media yang telah dikembangkan akan diujicobakan kepada pengelola Desa Wisata Balkondes Borobudur, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), serta pemuda di sekitar kawasan Borobudur. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas media dalam meningkatkan pemahaman budaya sekaligus mendukung pengembangan wisata edukasi berbasis masyarakat.

Menurut tim peneliti, hasil penelitian diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi pada bidang Desain Komunikasi Visual dan pendidikan budaya, tetapi juga mendukung upaya pelestarian warisan budaya melalui pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi dan perilaku generasi muda.

Ke depan, hasil penelitian akan dikembangkan menjadi platform multimedia interaktif yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah, komunitas budaya, desa wisata, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya Indonesia.

Melalui inovasi visual naratif ini, Borobudur diharapkan tidak hanya hadir sebagai monumen bersejarah yang dikunjungi wisatawan, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran budaya yang hidup, inspiratif, dan dekat dengan generasi masa kini.(dwiretnosa)

Label Berita: